nabawiKeutamaan Keikhlasan Perempuan

Oleh: Gunawan - Update Terbaru: 24 November 2020
kisah, nabawi, keutamaan
Keutamaan Kebaikan Keikhlasan Perempuan

Suatu hari masuklah Rosululloh Muhammad SAW menemui putrinya Fathimah Az-Zahra r.a. Didapatinya putrinya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis.

Rosululloh SAW bertanya pada putrinya, “apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga الله SWT tidak menyebabkan matamu menangis”.

Fathimah r.a. berkata, “ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumah tanggalah yang menyebabkanku menangis”.

Lalu duduklah Rosululloh SAW di sisi putrinya, Fathimah r.a. melanjutkan perkataannya, “ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta ‘ali (suaminya) mencarikan anakanda seorang jariah untuk menolongku menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah”.

Mendengar perkataan putrinya ini maka bangunlah Rosululloh SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair (sejenis padi-padian) dengan tangannya yang diberkahi lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya “Bismillahirrohmanirrohim“.

Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin الله SWT. Rosululloh SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk putrinya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada الله SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.

Rosululloh SAW berkata kepada gilingan tersebut, “berhentilah berputar dengan izin الله SWT”, maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin الله SWT yang Berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata.

Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, “Ya Rosululloh SAW, demi الله Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun, niscaya hamba gilingkan semuanya.”

Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab الله SWT suatu ayat yang berbunyi :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai الله terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan”.

Maka hamba takut, ya Rosululloh kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rosululloh SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, “bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az- zahra di dalam Surga”. Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Rosululloh SAW bersabda kepada putrinya;
Jika الله SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi الله SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh-Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat.

Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka الله SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

Ya Fathimah, perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka الله SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit.

Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka الله SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang.

Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka الله SWT akan menghalanginya dari meminum air Telaga Kautsar pada Hari Kiamat.

Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhoan suami terhadap isterinya. Jikalau suamimu tidak ridho denganmu tidaklah aku akan medoakanmu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridho suami itu daripada الله SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan الله SWT.

Ya Fathimah, apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan الله SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka الله SWT mencatatkan untuknya pahala orang- orang yang berjihad pada jalan الله yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman Surga, dan الله SWT akan mengkarurniakannya pahala seribu haji dan seribu umroh serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.

Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar, maka الله SWT akan mengampuni semua dosa-dosanya dan الله SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikarurniakan الله untuknya seribu pahala haji dan umroh.

Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka الله SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat.

Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), “teruskanlah amalmu, maka الله SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang”.

Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka الله SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai Surga dan الله SWT akan meringankan sakaratul maut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman Surga serta الله SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat”.

Wallohu A’lam. Semoga Bermanfaat. Wassalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *