Riwayat Bukhari dan Muslim: Hikmah Seorang Ahli Ibadah

By |Updated: November 9, 2016 4 Comments

Kisah Hikmah Seorang Ahli Ibadah, Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia mengisahkan, Rosululloh Muhammad saw bersabda, “Dahulu, ada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil bernama Juraij. Setiap hari ia menyepi di sebuah tempat peribadatannya.”

Suatu hari tatkala ia sedang menunaikan sholat, ibunya datang dan memanggilnya. “Wahai Juraij, kemarilah!”

Mendengar panggilan ibunya, Juraij pun menjadi bimbang dan bertanya dalam hati, “Ya Robbi, manakah yang aku dahulukan, ibuku ataukah sholatku?” Akhirnya ia memilih untuk tetap meneruskan sholat dan ibunya pergi meninggalkanya.

Keesokan harinya, sang ibu kembali mendatanginya dan memanggilnya, “Juraij, kemarilah!”

Juraij pun merasa bimbang dan bertanya dalam hati, “Ya Robbi, manakah yang harus aku dahulukan, ibuku ataukah sholatku?” Akhirnya ia tetap memilih untuk meneruskan sholat dan membiarkan ibunya pergi meninggalkannya.

Lusanya, si ibu mendatanginya lagi dan memanggilnya, “Juraij, kemarilah!”

Juraij pun merasa bimbang dan bertanya dalam hati, “Ya Robbi, manakah yang aku dahulukan, ibuku ataukah sholatku?” Akhirnya ia memilih meneruskan sholatnya. Si ibu merasa tersinggung dan berdoa, “Ya Alloh, janganlah Engkau memanggilnya ke haribaan-Mu kecuali setelah dia dipermalukan wanita pelacur.”

rombongan padang pasir

Image: rombongan padang pasir

Kisah Riwayat Bukhari dan Muslim

Sementara itu, ketenaran Juraij dalam kesalehan dan ibadahnya telah tersebar di kalangan orang-orang Bani Israil dan merasa sering menyebut-nyebutnya dalam percakapan mereka.

Suatu ketika, ada seorang wanita pelacur, berparas cantik berkata kepada orang-orang Bani Israil, “Jika kalian mengijinkan, aku bisa menjatuhkan nama baiknya (menguji keimanannya).”

Kemudian wanita pelacur itu pergi ke tempat Juraij. Ia mencoba merayunya dengan segala cara, namun Juraij tidak terpengaruh sedikit pun oleh rayuan wanita itu. Setelah gagal merayunya, pelacur itu lalu menemui seorang pengembala yang kebetulan lewat di jalan menuju kearah tempat peribadatan Juraij. Pelacur itu menyerahkan diri kepada si pengembala dan berzina dengannya.

Beberapa waktu kemudian, wanita pelacur itu hamil dan melahirkan anak. Setelah kelahiran anaknya ia berkata kepada orang-orang Bani Israil, “Anak yang aku bawa ini adalah hasil hubunganku dengan Juraij.”

Mendengar ucapannya, orang-orang Bani Israil kemudian menggerebek Juraij dan menyeretnya turun dari tempat peribadatannya. Mereka meruntuhkan tempat tersebut hingga rata dengan tanah dan memukuli Juraij bertubi-tubi.

Juraij pun berteriak dan berkata, “Ada apa gerangan dengan kalian sehingga kalian memukuliku seperti ini?”

Mereka menjawab, “engkau telah berzina dengan wanita pelacur ini hingga ia melahirkan anakmu.”

Juraij bertanya kepada mereka, “Dimana bayinya?” Orang-orang lantas mendatangkan bayi tersebut ke hadapannya.

Pada saat itu Juraij meminta waktu kepada mereka, “Ijinkan aku untuk sholat sejenak.”

Lalu ia menunaikan sholat dan setelah usai dari sholatnya ia menghampiri bayi itu. Ia menekan bagian pusar dari perut si bayi dan bertanya, “Wahai bayi, siapa sebenarnya ayahmu?”

Bayi itu menjawab, “Si Fulan pengembala.”

Mendengar keajaiban tersebut, orang-orang yang menyaksikan menghampiri Juraij dan mencium serta mengusap-usap tubuhnya. Mereka meminta maaf dan berjanji. “Kami akan membangun kembali untukmu tempat peribadatan dari emas.”

Namun Juraij menolak tawaran mereka, “Tidak perlu itu! Dirikanlah tempat peribadatanku ini dengan tanah sebagaimana semula. Kemudian mereka pun membangun kembali tempat itu sesuai keinginannya.”

(H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

4 Komentar: Riwayat Bukhari dan Muslim: Hikmah Seorang Ahli Ibadah

  1. Anonim

    Anonim >> pertanyaan yg bagus, sebenarnya banyak orang alim yg bnyk berpikir tentang ini,
    seperti
    Syech Abdul Qodir Al Jailani, beliau ketika muda mempunyai pilihan mencari ilmu atau merawat ibunya, namun beliau meminta izin terlebih dahulu sebelum menuntut ilmu kepada ibunya.
    dan yang lainnya banyak, diantara beberapa pilihan, sebenarnya kedua pilihan tidak salah, tapi mgkn cara penyampaiannya atau penjelasannya dengan komunikasi.

    Reply
  2. Anonim

    lalu apa jawabannya…shalat atau ibu kita…?
    krn dlm cerita tsb doa sang ibu dikabulkan Allah….

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *