kata mutiara, introspeksiKata-kata Mutiara Introspeksi

Oleh: Gunawan - Update Terbaru: 24 Oktober 2020
Artikel ini berisi tentang Kata-kata Mutiara Bijak Introspeksi Terhadap Diri Sendiri
kata mutiara, introspeksi
Kata-kata Mutiara Introspeksi

Introspeksi, atau Wawas diri (Mawas diri), atau Refleksi Diri adalah proses pengamatan terhadap diri sendiri dan pengungkapan pemikiran dalam yang disadari, keinginan, dan sensasi, dengan kata lain tindakan melihat ke dalam pikiran maupun perasaan sendiri. Proses tersebut berupa proses mental yang disadari dan biasanya dengan maksud tertentu dengan berlandaskan pada pikiran dan perasaannya.

Kata-kata Mutiara Bijak Introspeksi Terhadap Diri Sendiri

Dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib k.w.: “Barangsiapa yang Mengintrospeksi dirinya, maka dia telah beruntung; dan barang siapa yang lalai akan dirinya, maka dia telah merugi. Barangsiapa yang takut (akan siksa Alloh), maka dia akan aman (dari siksa-Nya).”

“Barangsiapa yang mau mengambil pelajaran, maka dia akan terbuka pandangannya. Barangsiapa yang telah terbuka pandangannya, maka dia akan memahami. Dan barangsiapa yang telah memahami, maka dia akan mengetahui.”

“Semoga Alloh merahmati seorang hamba yang takut kepada Tuhan-nya, menasehati dirinya, menyegerakan tobatnya, dan mengalahkan hawa nafsunya. Sebab, sesungguhnya ajalnya tersembunyi darinya, angan-angannya menipunya, sedangkan setan senantiasa menyertainya (berupaya menyesatkannya).”

“Sebaik-baik kehidupan adalah yang tidak menguasaimu dan tidak pula mengalihkan perhatianmu (dari mengingat Alloh SWT).”

“Ingatlah kalian akan berakhirnya segala kesenangan dan yang tertinggal adalah pertanggungjawaban.”

“Perbuatan-perbuatan hamba terjadi dalam kehidupan sekarang ini, sedangkan perhitungannya kelak di akhirat.”

“Lihatlah wajahmu setiap waktu di cermin. Maka, jika wajahmu itu bagus, anggaplah ia buruk karena engkau menambahkannya dengan perbuatan yang buruk, yang dengannya engkau telah memberi noda padanya. Dan jika (engkau dapati bahwa) wajahmu itu buruk, anggaplah ia memang buruk karena engkau telah menggabungkan dua keburukan (buruk rupa dan amal).”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *